Kenangan Kelam Jumat Kelabu


Hampir tiga dekade telah berlalu, peristiwa Jumat Kelabu di Banjarmasin masih menjadi luka yang membekas kuat bagi masyarakat Kota Seribu Sungai hingga sekarang. Tragedi yang terjadi pada Jumat, 23 Mei 1997 tersebut dikenal sebagai salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Kalimantan Selatan. Hingga kini, kenangan mengenai kerusuhan itu masih menyisakan trauma mendalam, terutama bagi warga yang menyaksikan langsung kejadian tersebut maupun mereka yang kehilangan keluarga, sahabat, dan kerabat akibat tragedi yang penuh kekacauan, ketakutan, dan kepanikan besar pada saat itu.

Peristiwa ini bermula ketika massa pendukung Golkar melakukan konvoi melewati Jalan Pangeran Samudera, Banjarmasin, dengan membawa berbagai atribut partai dan kendaraan bermotor. Pada waktu yang sama, ruas jalan di sekitar Masjid Noor ditutup sementara guna pelaksanaan salat Jumat, sebagaimana kebiasaan yang rutin dilakukan setiap pekan untuk menjaga ketertiban ibadah umat Muslim. Setelah salat Jumat selesai dilaksanakan, beberapa pengendara sepeda motor dengan atribut pohon beringin mencoba menerobos jalan yang masih ditutup dengan alasan ingin menuju Taman Kamboja, lokasi kampanye akbar yang diselenggarakan pada hari itu dan dipenuhi massa pendukung partai.

Tindakan para pengendara tersebut kemudian memicu kemarahan warga dan jemaah yang baru saja keluar dari masjid setelah menunaikan ibadah salat Jumat bersama-sama. Suara raungan motor yang tetap memaksa melintas di tengah suasana ibadah dianggap sebagai bentuk ketidakmenghormati jemaah salat Jumat serta masyarakat sekitar yang sedang menjaga ketertiban lingkungan. Situasi pun semakin memanas dan keributan tidak dapat dihindari karena emosi warga terus meningkat akibat tindakan yang dianggap provokatif tersebut. Beberapa orang yang mencoba menuju Taman Kamboja akhirnya ditahan, diserbu, bahkan dipukuli oleh warga yang emosinya telah tersulut akibat keadaan yang semakin tidak terkendali dan penuh ketegangan.

Kabar mengenai pemukulan tersebut dengan cepat menyebar ke massa kampanye lainnya yang berada di beberapa titik Kota Banjarmasin melalui informasi dari mulut ke mulut. Situasi di sekitar Jalan Pangeran Samudera berubah menjadi sangat mencekam hingga bentrokan antara jemaah salat Jumat dan massa kampanye akhirnya pecah di tengah keramaian kota. Amarah yang terus membesar kemudian menjalar ke berbagai sudut kota dan memicu kerusuhan yang semakin luas dalam waktu yang relatif singkat. Perkantoran, pusat perbelanjaan, bank, sekolah, hingga beberapa tempat ibadah menjadi sasaran amukan massa yang tidak terkendali pada saat itu dan menyebabkan kerusakan besar di berbagai lokasi.

Asap kebakaran, kepulan asap hitam, serta kepanikan warga pada hari itu menjadi pemandangan yang sulit dilupakan oleh masyarakat Banjarmasin hingga sekarang karena dampaknya begitu besar bagi kehidupan warga. Banyak masyarakat berusaha menyelamatkan diri dengan meninggalkan rumah maupun tempat usaha mereka demi menghindari kerusuhan yang terus meluas ke berbagai wilayah kota. Jalan-jalan utama dipenuhi suasana mencekam dan kekacauan, sementara aparat keamanan kesulitan mengendalikan situasi yang semakin memburuk dalam waktu singkat akibat amarah massa yang terus meningkat. Sebagian warga bahkan memilih berlindung di tempat yang dianggap aman sambil menunggu keadaan kembali kondusif.

Dalam tragedi tersebut, banyak korban berjatuhan akibat kerusuhan yang berlangsung tanpa kendali dan menyebabkan kerugian besar bagi masyarakat Kota Banjarmasin. Berdasarkan data Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), tercatat sebanyak 123 orang meninggal dunia, 118 orang mengalami luka-luka, dan 179 lainnya dinyatakan hilang akibat peristiwa tersebut. Jumlah korban yang cukup besar menunjukkan betapa dahsyatnya kerusuhan yang terjadi pada saat itu dan bagaimana konflik sosial dapat menimbulkan penderitaan yang mendalam bagi masyarakat luas. Selain korban jiwa, banyak bangunan dan fasilitas umum mengalami kerusakan akibat amukan massa yang terus meluas.

Peristiwa itu menjadi pengingat bagi masyarakat tentang besarnya dampak yang dapat muncul akibat konflik sosial dan politik yang tidak terkendali. Tragedi tersebut menunjukkan bagaimana ketegangan yang awalnya terjadi di satu lokasi dapat berkembang menjadi kerusuhan besar yang menimbulkan korban jiwa, kerusakan, serta trauma berkepanjangan bagi banyak warga.

Source:

https://projectmultatuli.org/sisa-duka-tragedi-jumat-kelabu-di-banjarmasin/

https://news.okezone.com/read/2024/05/23/337/3011958/mengenang-tragedi-jumat-kelabu-banjarmasin-27-tahun-lalu?page=all

https://timesindonesia.co.id/peristiwa-nasional/348536/sejarah-hari-ini-23-mei-mengenang-tragedi-jumat-kelabu-banjarmasin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BANDUNG LAUTAN API: KOBARAN SEMANGAT MENOLAK PENJAJAHAN

POLISI MEMBUNUH LAGI: MAU BERAPA BANYAK NYAWA?

Peringatan Hari Buruh Nasional