MENGENANG TRAGEDI TRISAKTI
12 Mei 1998 dikenang sebagai momen paling tragis dalam sejarah Indonesia. Hari itu adalah aksi demonstrasi damai mahasiswa yang menuntut Presiden Soeharto turun dari jabatannya, namun berujung pada peristiwa yang menggguncang seluruh bangsa. Sebab meliatkan tewasnya empat mahasiswa Universitas Trisakti di Jakarta (Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie) serta puluhan lainnya luka-luka. Peristiwa ini merupakan akibat krisis ekonomi yang melanda Indonesia yang dimulai sejak awal 1998.
Namun sebenarnya apa yang melatar belakangi tragedi trisakti ini terjadi?
Hal ini masih berkaitan dengan protes terhadap kondisi politik dan ekonomi yang terjadi. Mahasiswa mengajukan sejumlah tuntutan. Mulai dari penurunan harga bahan-bahan pokok yang meroket sejak Juli 1997. Kemudian, tuntutan kepada MPR agar tidak lagi mendukung pencalonan Soeharto sebagai presiden untuk tujuh periode secara berturut-turut. Selain itu, desakan untuk melakukan perubahan politik menyusul terpilihnya kembali Soeharto sebagai presiden, yang saat itu didampingi BJ Habibie sebagai wakilnya.
Keadaan ini memicu mahasiswa dan elemen masyarakat melancaran gelombang protes terhadap pemerintahan Orde Baru, tak terkecuali mahasiswa Universitas Trisakti.
Demonstrasi dilakukan besar-besaran ke Gedung Nusantara pada 12 Mei 1998. Semula, aksi damai dilakukan civitas akademika Universitas Trisakti di pelataran depan gedung Syarif Thayeb pada pukul 10.30-10.45 WIB. Selama aksi damai ini, mimbar bebas dan orasi berjalan lancar hingga menjelang tengah hari. Keadaan mulai memanas saat beberapa anggota aparat keamanan muncul di atas lokasi mimbar bebas. Massa lantas bergerak menuju Gedung MPR/DPR untuk menyampaikan aspirasi. Akan tetapi, long march massa aksi ini dihadang oleh aparat keamanan, dengan alasan bakal timbulnya kemacetan dan kerusuhan. Negosiasi pun dilakukan hingga pukul 16.45-16.55 WIB.
Hasil negosiasi adalah, massa aksi dan aparat keamanan sepakat untuk mundur. Namun, di saat mahasiswa bergerak untuk mundur, muncul orang bernama Mashudyang mengaku alumni (tidak tamat), berteriak ke arah massa dengan mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor. Tindakan ini memicu massa mengejar Mashud yangberlari menuju barisan aparat keamanan. Alhasil, ketegangan pun lantas terjadi antara mahasiswa dan aparat.
Setelah keadaan mereda, pada pukul 17.05-18.30 WIB, provokasi lantas dilancarkan lagi ke arah mahasiswa yang sudah bergerak mundur. Reaksi pun kembali muncul dari massa aksi. Di saat bersamaan, aparat keamanan langsung menyerang massa aksi. Mereka menembak dan melempar gas air mata, sehingga menyebabkan mahasiswa mengalami kepanikan.
Peristiwa ini bukan sekedar pelanggaran HAM biasa. Dari perspektif Ilmu Pemerintahan, peristiwa ini dipandang sebagai kegagalan sistematik tata kelola negara pada era Orde Baru. Pemerintah itu dianggap stabil jika memiliki legitimasi. Namun dari Tragedi Trisakti menunjukkan Pemerintahan kehilangan legitimasinya. Ketika aparat keamanan bergerak menembaki mahasiswa, terjadi pemutusan kontrak sosial antara penguasa dan rakyat. Pemerintah tidak lagi dipandang sebagai pelindung, melainkan ancaman. Hal ini juga dapat dipandang sebagai kegagalan fungsi menejemen konflik. Ketika pemerintah harusnya menjadi pengelola konflik kepentingan di masyarakat. Alih-alih melakukan dialog dengan mahasiswa, negara justru melakukan instrumen kekerasan. Dalam hal ini disebut sebagai represi, yang justru memperluas skala konflik.
Dapat disoroti bahwa ketika pemerintah enggan atau terkesan tertutup akan aspirasi masyarakat. Maka terjadilah kebuntuan antara tuntutan dan sikap pemerintah yang kaku. Sebab ketika aspirasi tidak mendapatkan ruang di meja perundingan, konflik dapat berpindah ke jalanan yang akhirnya berujung pada tragedi.
Jika pendekatan keamanan (represi) lebih dikedepankan daripada ruang diskusi publik yang bermakna, maka negara sebenarnya sedang mengulangi pola maladministrasi yang sama, di mana kekerasan aparat bukan meredam keadaan melainkan justru memperluas skala konflik dan memperburuk stabilitas pemerintahan.
Source:
Kronologi Tragedi Trisakti 12 Mei 1998 - Humas Trisakti https://share.google/ZFnQkmoZOx2eWBfeI
https://www.tempo.co/politik/menolak-lupa-tragedi-trisakti-1998-mereka-tewas- ditembak-di-dalam-kampus-59079#google_vignette - https://www.kompas.com/stori/read/2025/05/13/160000379/latar-belakang-dan- kronologi-tragedi-trisakti-1998
Contemporary Conflict Resolution karya Oliver Ramsbotham, Hugh Maill, dan Tom Woodhouse
Komentar
Posting Komentar