Hari Pendidikan Nasional: Ekonomi dan Pendidikan, Tantangan Besar di Negeri Sendiri
Pendidikan merupakan hal yang tidak dapat diperoleh secara cuma-cuma. Di era saat ini, pendidikan menjadi bidang yang menuntut pengorbanan, dimana faktor ekonomi menjadi salah satu pondasi dalam mengakses pendidikan di Indonesia. Masih banyak masyarakat yang terhambat dalam melanjutkan pendidikan akibat keterbatasan ekonomi. Dilansir dari laman Tempo.com, menurut catatan Kemendikdasmen pada tahun 2025, faktor-faktor penyebab anak tidak sekolah adalah tidak ada biaya (25,55%), mencari nafkah atau bekerja (21,64%), menikah atau mengurus rumah tangga (14,56%), merasa pendidikan sudah cukup (9,77%), disabilitas (3,64%), sekolah jauh (2,61%), dan mengalami perundungan (0,48%).
Dari kondisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya merdeka bagi seluruh rakyatnya. Oleh karena itu, sudah saatnya semua pihak mengambil peran nyata dalam meningkatkan kualitas dan akses pendidikan di Indonesia. Pemerintah perlu memperkuat kebijakan yang berpihak pada pemerataan pendidikan, tidak hanya di kota besar tetapi juga hingga daerah pelosok. Bantuan pendidikan harus tepat sasaran, fasilitas sekolah perlu ditingkatkan, dan tenaga pendidik harus memperoleh dukungan yang layak agar dapat mengajar dengan optimal.
Di Tengah semangat Hari Pendidikan Nasional, pemangkasan anggaran hingga Rp. 22,5 triliun menjadi tantangan bagi dunia pendidikan. Namun, pemerintah menegaskan bahwa kebijakan efisiensi tidak boleh berdampak pada kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) maupun keberlangsungan beasiswa, sehingga akses dan kualitas pendidikan tetap terjaga demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Di sisi lain, pengurangan pada aspek non-esensial seperti perjalanan dinas dan kegiatan seremonial diharapkan tidak mengganggu layanan utama pendidikan, sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bahwa pendidikan harus tetap menjadi prioritas utama meskipun dalam kondisi keterbatasan anggaran.
Dalam perspektif Ilmu Pemerintahan, peringatan Hari
Pendidikan Nasional tidak hanya dimaknai sebagai refleksi historis, tetapi juga
sebagai evaluasi terhadap kebijakan publik di sektor pendidikan yang kerap
menghadapi persoalan tumpang tindih dan ketidaksinkronan implementasi. Hal ini
menunjukkan pentingnya koordinasi antarlevel pemerintahan, terutama dalam
hubungan pusat, daerah dan pengelolaan fiskal, agar distribusi anggaran
pendidikan dapat berjalan adil dan merata. Selain itu, etika pemerintahan
menuntut agar setiap kebijakan tetap berorientasi pada kepentingan publik,
mengingat pendidikan merupakan hak dasar warga negara sebagaimana diperjuangkan
oleh Ki Hajar Dewantara yang menekankan bahwa pendidikan harus dapat diakses
oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Seperti yang kita ketahui, Presiden Indonesia punya program unggulan yaitu MBG, dan dampaknya kebijakan efisensi turut dirasakan di berbagai sektor, termasuk pendidikan dan tenaga pendidik seperti guru honorer. Hal ini membuat kondisi gaji guru honorer yang sebelumnya sudah rendah menjadi semakin memprihatinkan.Guru yang bertugas mencerdaskan bangsa justru menghadapi realitas yang berat. Di tengah pemangkasan anggaran, pendidikan menjadi salah satu sektor yang terdampak, banyak sekali guru honorer yang mengeluhkan kebijakan efisiensi anggaran yang mencapai 40%. Kondisi ini menjadi realitas pahit dalam dunia pendidikan.
Gaji guru honorer di beberapa daerah terdampak efisiensi anggaran, dengan kasus ekstrem dilaporkan mencapai Rp. 223.000 per bulan akibat pemotongan anggaran. Meskipun ada wacana kenaikan insentif menjadi Rp. 400.000 pada 2026, kebijakan pengurangan porsi dana BOS untuk gaji honorer dari 50% menjadi 20% menimbulkan kekhawatiran. Namun, pemerintah pusat mengklaim tunjangan profesi guru non-PNS tetap naik menjadi Rp. 2.000.000 per bulan.
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran penting dalam menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pendidikan. Orang tua perlu terus mendorong anak-anaknya untuk tetap bersekolah, meskipun dalam keterbatasan. Dukungan moral dan semangat dari lingkungan sekitar sering kali menjadi faktor penentu bagi anak untuk terus melanjutkan pendidikan.
Selain itu, peran generasi muda juga sangat penting.
Mereka merupakan agen perubahan yang dapat membawa harapan baru bagi bangsa.
Dengan semangat belajar yang tinggi dan tekad untuk maju, generasi muda dapat
memutus rantai keterbatasan ekonomi yang selama ini menjadi penghambat.
Hari Pendidikan Nasional bukan hanya sekadar peringatan, tetapi juga merupakan momen penting untuk melakukan refleksi sekaligus mengambil tindakan nyata. Refleksi dilakukan dengan menyadari bahwa masih banyak tantangan yang harus diselesaikan, semetara aksi diwujudkan melalui upaya bersama dalam menciptakan sistem pendidikan yang lebih adil dan merata. Dengan demikian, harapan akan pendidikan yang benar-benar “merdeka” bagi seluruh rakyat Indonesia tidak hanya menjadi wacana, melainkan dapat terwujud secara nyata.
Hari Pendidikan Nasional sendiri di peringati pada tanggal 2 Mei, bertepatan dengan hari lahir Ki Hajar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan Indonesia. Ia dikenal sebagai pendiri Taman Siswa, yang bukan hanya sekadar lembaga pendidikan, tetapi juga simbol perlawanan terhadap penjajah melalui pendidikan dan kebudayaan. Ki Hajar Dewantara juga terkenal dengan semboyannya, “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”, yang mengajarkan tentang keteladanan, semangat, dan dorongan. Hingga kini semboyan tersebut menjadi dasar dalam dunia pendidikan Indonesia.
Peringatan Hari Pendidikan Nasional bertujuan untuk
mengenang jasa Ki Hajar Dewantara sekaligus mendorong masyarakat Indonesia agar
terus berperan aktif dalam memajukan sistem pendidikan demi masa depan yang
lebih baik. Momen ini juga menjadi pengingat akan pentingnya memberikan
pendidikan yang berkualitas bagi setiap anak bangsa sebagai generasi penerus
dan fondasi negara, serta sebagai simbol perjuangan dalam mewujudkan pendidikan
yang merata, inklusif, dan dapat diakses oleh seluruh rakyat Indonesia.
Source:
https://lifestyle.kompas.com/read/2025/06/21/140500420/faktor-ekonomi-jadi-penghambat-pendidikan-pentingnya-rencana-keuangan
https://guruinovatif.id/artikel/sejarah-semboyan-dan-makna-hari-pendidikan-nasional
https://www.detik.com/jateng/berita/d-7319524/sejarah-hari-pendidikan-nasional-ini-makna-tujuan-cara-memperingatinya
https://www.tempo.co/politik/nasib-ukt-dan-beasiswa-kip-kuliah-di-tengah-efisiensi-anggaran-prabowo-1207421
https://www.kompas.com/skola/read/2025/04/29/130000269/sejarah-hari-pendidikan-nasional-mengenang-ki-hajar-dewantara-dan
https://www.tempo.co/politik/kementerian-pendidikan-3-9-juta-anak-tak-bersekolah-1483849
Komentar
Posting Komentar