Hari Kemanusiaan Sedunia: Memperkuat Solidaritas Global dan Memberdayakan Komunitas Lokal
1. Kejadian yang Menjadikan Hari Ini Diperigati
Peristiwa tragis pengeboman di Hotel Kanal, Baghdad, pada 19 Agustus 2003, tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi dunia kemanusiaan, tetapi juga menggugah kesadaran global tentang pentingnya melindungi para pekerja kemanusiaan yang berada di garis depan. Kejadian ini memperlihatkan bahwa tugas mulia mereka seringkali penuh risiko, karena dijalankan di tengah konflik, bencana, maupun krisis kemanusiaan yang rawan mengancam keselamatan jiwa. Tragedi tersebut sekaligus menjadi titik balik bagi komunitas internasional untuk menegaskan bahwa kerja kemanusiaan bukan sekadar tindakan sukarela, melainkan bagian penting dari upaya menjaga martabat dan hak asasi manusia.
Dokumentasi kejadian tragedi pengeboman di Hotel Kanal, Baghdad, Irak, pada 19 Agustus 2003
Dorongan untuk menetapkan sebuah hari khusus sebagai bentuk penghormatan bagi para pekerja kemanusiaan kemudian terus diperjuangkan oleh keluarga Sérgio Vieira de Mello, salah satu korban utama dalam peristiwa itu, bersama dukungan kuat dari para duta besar Perancis, Swiss, Jepang, dan Brasil. Perjuangan tersebut membuahkan hasil ketika Majelis Umum PBB akhirnya mengesahkan resolusi pada tahun 2008 yang menetapkan tanggal 19 Agustus sebagai Hari Kemanusiaan Sedunia. Sejak saat itu, peringatan ini menjadi simbol solidaritas global, sekaligus pengingat bahwa perlindungan, dukungan, dan penghargaan terhadap para pekerja kemanusiaan adalah bagian tak terpisahkan dari misi kemanusiaan itu sendiri.
2. Hari Kemanusiaan di Indonesia
Di Indonesia, semangat kemanusiaan telah tumbuh subur melalui nilai gotong royong dan solidaritas sosial yang tercermin dalam penanganan berbagai bencana. Ketika terjadi tsunami Aceh pada tahun 2004, bantuan mengalir deras dari dalam dan luar negeri menjadi salah satu momentum kebangkitan kesadaran kolektif akan peran aktif komunitas dalam mitigasi krisis. Momen ini juga membentuk budaya relawan di Indonesia, yang kerap terlibat aktif dalam bentuk donor darah, penggalangan dana, hingga pelatihan kesiapsiagaan bencana.
Dokumentasi Memperingati Hari Kemanusiaan Sedunia 2024 (Teddy/Liputan6)
Kini, setiap peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia di Indonesia tidak hanya menjadi ajang penghormatan, tetapi juga sarana edukasi: penyuluhan tanggap darurat, lokakarya pemberdayaan komunitas, simulasi penanganan bencana, serta kampanye kesadaran hak-hak manusia. Data menunjukkan bahwa ketangguhan komunitas lokal terbukti vital dalam merespons bencana serta mempercepat pemulihan. Misalnya, relawan lokal sering kali menjadi garda terdepan penanganan korban, mereka yang pertama tiba di lokasi bahkan sebelum bantuan datang dari pusat.
3. Harapan untuk Hari Kemanusiaan di Dunia
Tema pada tahun ini, “Memperkuat Solidaritas Global dan Memberdayakan Komunitas Lokal”, menekankan pentingnya sinergi antara solidaritas multisektoral dan penguatan komunitas di tingkat akar rumput. Beberapa data inspiratif turut menggugah semangat: Sejak 2018, Concern Worldwide melalui Somali Cash Consortium bersama Acted telah memberikan bantuan tunai kepada lebih dari 3,5 juta orang pengungsi di Somalia. Pada 2025, Aid Worker Security Database melaporkan wilayah Pendudukan Palestina sebagai tempat paling berbahaya bagi pekerja kemanusiaan, dengan 156 kematian.
Data terbaru dari Aid Worker Security Database (AWSD) menunjukkan bahwa tahun 2024 merupakan tahun paling mematikan bagi pekerja kemanusiaan, dengan 281 orang tewas secara global. Dari jumlah tersebut, 175 pekerja kemanusiaan gugur di Gaza, menjadikan wilayah tersebut sebagai tempat paling berbahaya bagi misi kemanusiaan di seluruh dunia. Kondisi ini mempertegas urgensi perlindungan nyata bagi pekerja kemanusiaan yang berada di garis depan.
Di sisi lain, ketika Badai Chido melanda Mozambik pada Desember 2024, Ayuda en Acción bersama aliansi kemanusiaan internasional merespons cepat dengan mendistribusikan bantuan darurat kepada 1.688 keluarga. Bantuan tersebut mencakup kit perbaikan rumah, distribusi perlengkapan WASH, serta pemulihan akses air bersih untuk keluarga yang terdampak. Upaya ini menunjukkan bagaimana kolaborasi lintas negara mampu mendukung ketahanan masyarakat lokal dalam menghadapi bencana.
Fakta-fakta ini menggambarkan bagaimana solidaritas global dapat menghadirkan dampak nyata, sekaligus menegaskan bahwa keselamatan pekerja kemanusiaan dan pemberdayaan komunitas lokal harus menjadi prioritas bersama. Dengan begitu, harapan untuk membangun dunia yang lebih adil, aman, dan berkelanjutan dapat benar-benar diwujudkan melalui aksi kemanusiaan yang berpihak pada manusia.
Daftar Pustaka:
- United Nations. (n. d.). World Humanitarian Day 19 August. Diakses pada 15 Agustus 2025, dari https://www.un.org/en/observances/humanitarian-day
- Anindita Mutiarasari, K. (2024, 19 Agustus). Tentang Hari Kemanusiaan Sedunia, diperingati tanggal 19 Agustus 2024. detikNews. Diakses pada 15 Agystus 2025 dari https://news.detik.com/berita/d-7495764/tentang-hari-kemanusiaan-sedunia-diperingati-tanggal-19-agustus-2024
- Aid Worker Security Database (AWSD). (n. d.). 2024 is the deadliest year for aid workers on record. Diakses pada 15 Agustus 2025 dari
- https://aidworkersecurity.org



Komentar
Posting Komentar