Munir: Racun di Langit, Luka di Bumi
Perlawanan Munir dibayar mahal. Rumahnya pernah diteror bom pada 2003, kantor KontraS diserang massa bayaran, dan dirinya kerap menerima ancaman pembunuhan. Tapi keberanian itu tak surut. Puncaknya, 7 September 2004, Munir diracun arsenik dalam penerbangan Garuda Indonesia GA-974 rute Jakarta–Amsterdam. Autopsi di Belanda membuktikan kandungan arsenik dalam tubuhnya mencapai kadar mematikan. Matt Easton dalam bukunya We Have Tired of Violence menggambarkan detik-detik terakhir Munir di kursi baris keempat pesawat: seorang pembela HAM kelas dunia yang tubuhnya pelan-pelan melemah akibat racun yang disajikan di atas udara. Easton menyebut kasus ini sarat konspirasi—dari agen intelijen, co-pilot misterius, hingga data telepon yang mengaitkan Pollycarpus Budihari Priyanto, pilot Garuda, dengan pejabat Badan Intelijen Negara.
Perkara hukum yang menyusul justru menyingkap rapuhnya penegakan hukum di negeri ini. Pollycarpus sempat divonis bersalah dan dihukum 14 tahun penjara, tetapi peran aktor intelektual pembunuhan tak tersentuh. Nama Muchdi Purwoprandjono, Deputi BIN saat itu, muncul dalam persidangan, namun ia dibebaskan oleh pengadilan. Laporan Tim Pencari Fakta (TPF) Munir yang dibentuk pada 2005 bahkan tak pernah dipublikasikan resmi. Presiden silih berganti berjanji menuntaskan kasus ini, tetapi janji hanya tinggal jargon politik. Buku putih Bunuh Munir! Terbitan Koalisi Masyarakat Sipil menegaskan adanya keterlibatan struktural aparat negara. Kritik keras pun mengemuka: pemerintah lebih sibuk menjaga citra institusi ketimbang menegakkan kebenaran.
Di sisi lain, kisah Munir tak pernah benar-benar berhenti. Istrinya, Suciwati, mendirikan Omah Munir di Batu sebagai ruang edukasi HAM. Ia juga menulis Mencintai Munir, yang merekam perjalanan cinta sekaligus perjuangan melawan lupa. Munir sendiri semasa hidupnya telah menerima Right Livelihood Award tahun 2000, pengakuan dunia atas keberanian sipil yang jarang dimiliki aktivis. Easton menulis, “Kebenaran tentang siapa yang membunuh Munir adalah satu-satunya penangkal bagi sistem peradilan Indonesia yang beracun.” Kalimat itu menggambarkan paradoks terbesar reformasi: korban jelas, bukti kuat, tetapi negara memilih bungkam.
Dua dekade sejak racun arsenik merenggut nyawanya, Munir tetap hidup dalam ingatan rakyat. Setiap tahun, ribuan orang menyalakan lilin, berbaris di depan Istana, menagih janji yang tak kunjung ditepati. Kasus Munir menjadi ujian: apakah demokrasi Indonesia berani menegakkan keadilan, atau sekadar berhenti pada slogan kosong. Munir mungkin dibungkam di udara, tetapi suaranya masih menggema di bumi: menolak lupa, menuntut negara, dan mengingatkan bahwa reformasi masih berutang pada kebenaran.
Referensi:
Amnesty International. (2014, September 6). A decade of injustice: Time to find Munir’s real killers. Amnesty.org. https://www.amnesty.org/en/latest/news/2014/09/a-decade-of-injustice-time-to-find-munir-s-real-killers
BenarNews. (2022, September 7). Indonesian rights commission to probe activist’s 2004 murder. BenarNews.org. https://www.benarnews.org/english/news/indonesian/indonesian-rights-commission-to-probe-activists-2004-murder-09072022131026.html
Human Rights Watch. (2020, September 7). Sixteen years, still no justice for Munir’s death. HRW.org. https://www.hrw.org/news/2020/09/07/sixteen-years-still-no-justice-munirs-death
Kompas. (2020, September 7). Mengenang 16 tahun wafatnya Munir, pejuang kemanusiaan. Kompas.com. https://www.kompas.com/tren/read/2020/09/07/120300265/mengenang-16-tahun-wafatnya-munir-pejuang-kemanusiaan
KontraS, Imparsial, YLBHI, & ELSAM. (2005). Bunuh Munir!: Sebuah buku putih. Jakarta: Tim Advokasi untuk Munir.
Right Livelihood Award. (2000). Munir Said Thalib – Laureate profile. Rightlivelihood.org. https://rightlivelihood.org/the-change-makers/find-a-laureate/munir
The Jakarta Post. (2022, May 29). New book set to shed light on Munir murder. The Jakarta Post. https://www.thejakartapost.com/paper/2022/05/29/new-book-set-to-shed-light-on-munir-murder.html
BUKU:
Suciwati. (2022). Mencintai Munir. Jakarta: Marjin Kiri.
Easton, M. (2022). We have tired of violence: A true story of murder, memory, and the fight for justice in Indonesia.

Komentar
Posting Komentar