Rupiah Per-hari Ini

 

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah hingga berulang kali mencetak rekor-rekor pelemahan baru sepanjang sejarah. Pelemahan ini menandai tekanan ganda yang datang dari kondisi moneter global dan tantangan struktural domestik yang mulai diuji oleh pelaku pasar.

Disisi lain, respons kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin belum cukup mampu meredam tekanan tersebut. Oleh sebab itu, penguatan kebijakan sebaiknya dibarengi dengan kepastian kebijakan demi efektivitas stabilisasi.

Namun, Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kerja di Nganjuk (16 Mei 2026) menyampaikan pernyataan bahwa "orang desa tidak memakai dolar". Sebenarnya ini adalah bentuk komunikasi krisis yang bersifat populis. Tujuannya adalah untuk containment (pembatasan) kepanikan massa guna menjaga stabilitas sosial. Dalam teori komunikasi politik, pernyataan ini berfungsi sebagai instrumen simbolik untuk memisahkan antara dinamika elit ekonomi dengan realitas ekonomi masyarakat akar rumput.

Per hari ini, Jumat, 29 Mei 2026, berdasarkan data Bloomberg. Pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah mencapai Rp 17.836 per dolar AS.

Cara pemerintah menenangkan masyarakat menggunakan ucapan itu bukan suatu hal solutif. Kalau pemerintah hanya fokus menenangkan suasana tanpa dibarengi dengan tindakan nyata yang benar-benar bisa menekan harga, masyarakat perlahan akan mulai merasa tidak yakin.

Faktanya sangat berlawanan dengan pidato presiden, bahwa desa tidak terdampak, secara ekonomi makro, pelemahan Rupiah menciptakan inflasi impor yang jelas dirasakan semua orang:

​• Biaya Produksi Pertanian: Pupuk dan pestisida seringkali bergantung pada bahan baku impor. Ketika Rupiah melemah, harga input pertanian melonjak, menekan margin keuntungan petani.

​• Daya Beli: Kenaikan harga barang kebutuhan pokok yang didistribusikan melalui rantai pasok yang menggunakan bahan bakar (BBM) yang harganya dipengaruhi harga minyak dunia dalam Dolar, akan menaikkan beban pengeluaran masyarakat desa.

Pemerintah yang baik harus bisa menyeimbangkan antara mengambil hati rakyat dengan kerja nyata yang membuahkan hasil. Menggunakan retorika yang menyederhanakan masalah ekonomi dapat memberikan obat penenang jangka pendek, namun berisiko mengurangi kepercayaan publik jika realitas ekonomi lapangan tidak sejalan dengan narasi pemerintah. Menurut konsep Good Governance, transparansi mengenai dampak krisis adalah kewajiban agar masyarakat dapat melakukan adaptasi ekonomi secara rasional.

Mengatakan 'desa tidak pakai dolar' adalah cara pandang yang terlalu sederhana dan naif, karena pemerintah seolah lupa bahwa semua ekonomi kita tetap terhubung dengan pasar dunia.

Pemerintah mestinya dapat beralih dari komunikasi yang bersifat normatif ke arah komunikasi edukatif. Jelaskan kepada publik langkah konkret apa yang sedang dilakukan Bank Indonesia dan pemerintah untuk menjaga Rupiah, alih-alih menganggap enteng dampak krisis tersebut. 

Source:


Rupiah Tembus Rp 17.900, sampai di Mana Depresiasi Akan Berlanjut? https://share.google/qa8tWYxIpUrTpSkYv

Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, Jumat 29 Mei 2026: Keluar dari Zona Merah https://share.google/sfRLZBQ6Vv4FlnLW0

Ekonomi: Masalah di balik pernyataan Presiden Prabowo 'rakyat di desa enggak pakai dolar' - BBC News Indonesia https://share.google/P5z2rtft1dAxVG85Y

https://jurnal.sttmcileungsi.ac.id/jik/article/download/2311/1008/?hl=id-ID

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BANDUNG LAUTAN API: KOBARAN SEMANGAT MENOLAK PENJAJAHAN

Peringatan Hari Buruh Nasional

POLISI MEMBUNUH LAGI: MAU BERAPA BANYAK NYAWA?