Hari Kesaktian Pancasila


Hari Kesaktian Pancasila diperingati seluruh rakyat setiap tanggal 1 Oktober. Berbeda dengan hari lahir Pancasila, yang diperingati karena momentum lahirnya gagasan awal. Hari kesaktian Pancasila, diperingati untuk mengenang sejarah Bangsa Indonesia dalam Mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara sekaligus penghormatan kepada pahlawan revolusi yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Dilatarbelakangi oleh peristiwa G30S, yakni peristiwa  penculikan dan pembunuhan sejumlah TNI AD pada 30 September – 1 Oktobber 1965. Dua tahun kemudian, pada 27 September 1967, Presiden Soeharto menandatangani Keppres Nomor 153 Tahun 1967. Lewat keputusan itu, 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila, hari untuk menebalkan keyakinan bahwa Pancasila adalah pandangan hidup yang mampu mempersatukan seluruh bangsa.

Namun sejarah tidak berhenti pada satu malam itu. Setelahnya, kekerasan massal melanda berbagai wilayah. Komnas HAM yang menyelidiki pada 2008 hingga 2012 menyebut jumlah korbannya berkisar antara 500 ribu hingga 3 juta orang, dan menyimpulkan telah terjadi sembilan pelanggaran HAM berat pada 1965-1966.

Di titik inilah kisahnya menjadi rumit. Pemerintah Orde Baru memandang peristiwa 30 September sebagai upaya PKI untuk menggulingkan pemerintahan dan mengganti Pancasila. Pandangan itu kemudian dijadikan bukti adanya ancaman terhadap dasar negara, sekaligus alasan bagi pentingnya menjaga stabilitas nasional. Narasi resmi ini disusun oleh Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh, dan selama puluhan tahun menjadi cerita yang diajarkan kepada banyak generasi. Tetapi para peneliti kemudian menyodorkan gambaran lain. Benedict Anderson dan Ruth McVey lewat Cornell Paper memandang peristiwa itu sebagai puncak konflik di dalam tubuh Angkatan Darat sendiri. Ada penulis yang menyoroti peran Soekarno. Ada pula John Roosa yang menilai peristiwa ini terlalu kacau untuk dijelaskan dengan satu dalang saja. Sejarawan Asvi Warman Adam menyimpulkannya dengan hati-hati: apakah dalangnya PKI atau pihak lain, hal itu masih bisa diperdebatkan.

Maka, jika ditelusuri, Hari Kesaktian Pancasila berdiri di atas dua lapisan. Lapisan pertama adalah fakta yang tidak terbantahkan: para perwira yang gugur dan jatuhnya korban dalam jumlah besar sesudahnya. Lapisan kedua adalah tafsir tentang siapa dan mengapa, yang sampai kini masih menjadi ruang perdebatan. Penetapan hari peringatan ini lahir dari tafsir pemerintah pada masanya, bukan dari kesimpulan sejarah yang sudah final.

Lalu apa yang bisa kita bawa pulang dari sini? Barangkali ini: mengenang tidak harus berarti berhenti bertanya. Sila kedua mengajak kita menghargai semua korban, baik para jenderal yang gugur maupun mereka yang menjadi korban kekerasan sesudahnya. Sila ketiga mengingatkan bahwa persatuan dibangun dengan berani menatap masa lalu bersama, bukan dengan saling menuding. Sila keempat mengajarkan bahwa perbedaan pandangan tentang sejarah semestinya diselesaikan lewat dialog dan kajian yang sehat. Dan sila kelima menegaskan bahwa kebenaran serta keadilan bagi para korban adalah bagian dari cita-cita bangsa.

Pancasila menjadi sakti bukan karena kita takut bertanya, tetapi karena kita cukup dewasa untuk mengenang, mempelajari, dan mencari kebenaran bersama-sama.

Source:

https://www.kompas.com/tren/read/2025/09/30/190000865/sejarah-hari-kesaktian-pancasila-1-oktober-ini-latar-belakang-penetapannya?page=all

https://www.antaranews.com/berita/5142109/hari-kesaktian-pancasila-setiap-1-oktober-ini-makna-dan-sejarahnya

https://www.tempo.co/hukum/pertanyaan-yang-belum-terjawab-dalam-peristiwa-g30s-1965-812033

https://www.suara.com/news/2020/09/30/171508/ada-lima-versi-siapa-jadi-dalang-g30s-1965-mana-yang-kamu-percaya

https://www.vice.com/id/article/generasi-muda-indonesia-lebih-obyektif-memahami-sejarah-peristiwa-g30s-1965-sebagai-kudeta-gagal/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BANDUNG LAUTAN API: KOBARAN SEMANGAT MENOLAK PENJAJAHAN

Peringatan Hari Buruh Nasional

Kalsel Gelap. Mau Sampai Kapan?